Minggu, 09 Oktober 2011

"DiaMyRy Taeminie Part 6 "

Cast :
  • Taemin
  • Nuna
= = = = =

Akhir-akhir ini aku jadi sering ketempat Nuna. Setiap ada kesempatan aku pasti meluncur kesana. Tentu saja aku kesana setelah Nuna selesai kerja. Habis kalau gak ketemu Nuna sehari saja, badanku terasa sakit sekali terutama hatiku. Aku jadi kecanduan bertemu dengan Nuna. Nuna memintaku duduk di depan televisi, Nuna sedang sibuk memasak sekarang. Dapur dan tempatku sekarang bersebelahan,jadi aku bisa memperhatikan Nuna.

" Nuna~" Panggilku.

" Hm.." Nuna hanya berguman menjawab panggilanku.

Nuna sibuk dengan masakannya, menoleh padaku sebentar saja tidak.

" Nunaaa~"

" apa?"

Nuna tetap tidak menoleh. aku jadi kesal tidak diperhatikannya.

" Nuna, Nuna, Nunaaaa~ "

" APA sih Taeminie? APA? APA?" kata Nuna kesal, karna kegiatannya diganggu.

Yey!!! akhirnya Nuna melihat kearahku juga, walaupun sambil marah-marah sih! Tapi, Nuna tetap cantik walau marah-marah gitu.

" kenapa wajahmu malah terlihat senang begitu?"

aku tersenyum.

" Hehe..." jawabku.

" kau memang mau menggangguku ya Taeminie? dari pada kamu gak ada kerjaan, bantuin aku aja sini"

" SIAP!!!"

aku segera berdiri, berjalan menuju Nuna. kemudian berdiri disamping Nuna.

" Yeobo, mau dibantuin apa?" Tanyaku menggoda Nuna, Nuna menoleh kemudian mencubit pipiku.

" Siapa yang kau maksud Yeobo? kau siapkan saja peralatan makannya dimeja, Tata yang rapi ya?"

aku segera melaksanakan perintah Nuna, sambil sesekali aku melihat kearah Nuna.

" Nuna, kita jadi seperti pengantin baru"

Nuna menoleh padaku, kemudian melanjutkan memasaknya. Nuna dingin sekali. padahal aku sudah berkata begitu, tapi Nuna tidak berkomentar sama sekali.
Tak lama semua telah selesai.

" Fiuh~ akhirnya selesai juga!!" kataku lega. Nuna tersenyum sambil melepas celemeknya. aku segera menarikkan kursi untuknya. " Silahkan Ratuku"
Nuna tersenyum.

" terima kasih"

" Nuna ada lilin?" tanyaku tiba-tiba. Nuna tampak kaget.

" ada, di lemari dapur"

aku segera membuka lemari dan mengambil semua lilin yang ada. menata dengan rapi lilin-lilin di atas meja makan. kemudian ku nyalakan semua lilinnya.

" biar terasa seperti Dinner romantis" kataku kemudian duduk di depan Nuna.

Nuna hanya tersenyum. aku menatap mata Nuna dalam-dalam. Nuna, memalingkan wajahnya ke arah lain.

" Taeminie, hentikan memandangku seperti itu. aku sudah lapar, ayo kita makan" kata Nuna, masih tetap memandang kearah lain.

" Aku mau bacakan puisi untuk Nuna"

Nuna menoleh, mata Nuna melebar kaget. sebentar kemudian lalu tetawa kecil.

" Silahkan" kata Nuna setengah tertawa.

" Gak jadi ah! belum apa-apa sudah diketawain"

" Ya, ya, maaf... ayolah, silahkan"

Aku memandang wajah Nuna, Nuna tersenyum. Tanganku menggenggam tangan Nuna. Nuna tampak kaget, tapi dia tak melepas genggaman tanganku.

" Cantik... semua terpancar dari wajahmu laksana cahaya bulan purnama. Indah... semua yang ada dalam dirimu laksana bait syair cinta para pujangga. Engkau yang cantik nan indah berpijar dihati ini. Engkau yang selalu ku puja bak bidadari dari surga. Engkau yang cantik nan indah mempesona merasuk ke jiwaku membuatku tak beralih pandang walau hanya sesaat. Kapankah kecantikan dan keindahan yang ada dalam dirimu, menjadi miliku?"

Nuna tepuk tangan sambil tersenyum. lalu mengangkat kedua jempol tangannya.

" Nuna, jawab pertannyaannya..." kataku serius.

" Taeminie, aku sudah lapar~~" kata Nuna memelas.

Nuna sengaja mengalihkan pembicaraan. aku menghela nafas panjang. bagaimanapun juga, aku sayang Nuna. Aku tidak mungkin membiarkan perut Nuna lapar.

" Ya sudah, ayo kita makan" kataku lemas. Nuna tersenyum.

kami mulai makan. masakan Nuna enak sekali. Makin cinta aku sama Nuna. kami makan malam sambil mengobrol tentang banyak hal. Nuna banyak tertawa hari ini, aku senang melihatnya. Nuna terima kasih untuk hari ini. aku bahagia bisa menyukai Nuna.
OH ya!! ngomong-ngomong aku seperti melupakan sesuatu. tapi, apa ya?

Minggu, 02 Oktober 2011

"DiaMyRy Taeminie Part 5 "

cast :

  • Taemin
  • Nuna
= = = = =

" Taeminie, berapa umurmu?" Tanya Nuna menatapku serius.

aku menghentikan jariku yang sedang main game di Hp Nuna. aku menoleh ke arah Nuna.

" Nuna tidak tau?" aku menjawab dengan pertanyaan lainnya. Nuna menjitak kepalaku.

" kau ini di tanya, malah balik tanya"

" Nuna jangan suka pukul kepala, Nanti aku bisa Baboo!!!"

" Sekarang saja sudah Babo!! sudahlah jawab pertanyaanku"

" 18, Nuna"

" Lalu berapa umurku?"

aku menyipitkan mataku. aku tidak mengerti maksud pertanyaan Nuna. Nuna ini sedang eror kayaknya.

" Nuna hilang ingatan ya? masa, umur sendiri lupa?"

Tangan Nuna sudah siap-siap mau menjitak kepalaku lagi.

" Aish~ baiklah Nuna. umur Nuna 21 Tahun. Nuna sudah ingat?"

" aku tidak lupa"

" lalu kenapa Nuna tanya-tanya? Ah~ Baboo!!!"

" siapa yang kau maksud Babo?" Nuna menatapku.

bagaimana ini, aku mau jawab kalau yang babo itu Nuna. tapi,...

" aku yang Babo!!!" kataku akhirnya ,habis aku gak berani ngomongnya. aku melanjutkan main game lagi.

" kenapa kau bisa tau umurku, Taeminie?" tanya Nuna.

aku menoleh kearah Nuna yang sedang menonton televisi.

" karna aku suka Nuna, apapun tentang Nuna aku tau" jawabku supaya terlihat keren.

tapi, Nuna tidak bereaksi sama sekali. kecewa aku jadinya. aku berfikir lalu aku mendekatkan mulutku ketelinga Nuna.
" ukuran bra Nuna, aku juga tau" bisikku pada Nuna. Nuna dengan cepat menjitak kepalaku lagi.

" Kau ini..."

" hehe..."

Nuna menoleh kearah televisi lagi. aku manyun, kayaknya Nuna lebih senang melihat acara televisi dari pada melihatku. aku berdiri didepan Nuna. menghalangi matanya melihat televisi.

" aishh~ Taeminie...kau jangan menutupi televisi"

tangan Nuna mendorong-dorong badanku, aku tidak mau bergerak dari sana. aku tidak akan kalah dari televisi.

" baiklah, kau menang Taeminie...kau mau apa sekarang?"

aku tersenyum senang. aku kemudian jongkok di depan kaki Nuna. Nuna memperhatikanku, kemudian tersenyum.

" wajahmu mirip seperti anak anjing yang mau dimanja" kata Nuna tertawa kecil.

" aku memang mau dimanja" jawabku kemudian duduk kembali di sofa.

aku merebahkan kepalaku di pangkuan Nuna. mata Nuna langsung menatap televisi lagi begitu aku tak menghalanginya. aku menangkap wajah Nuna dengan kedua tanganku. Nuna jadi melihatku sekarang.

" Nuna lihat sini dulu, aku mau tanya"

" tanya apa?" tanya Nuna lembut. Tangan Nuna di letakkan di atas rambutku. aku tersenyum.

" kenapa Nuna tadi tanya-tanya umur?"

" Taeminie...kamu ke rumahku mau apa?" tanya Nuna tiba-tiba.

benar juga, aku hampir lupa tujuanku kesini. aku sekarang ada di rumah Nuna. Nuna tinggal sendiri. karna hari ini aku libur gak ada kerjaan, dan Nuna juga libur karna hari minggu. aku segera bangun dari pangkuan Nuna lalu mengambil tasku yang tadi aku bawa. aku mengambil dua buah kaos dari dalam tasku. aku tunjukkan pada Nuna. Nuna melihat kaos-kaos itu.

" bagaimana Nuna?"

" apanya?"

" aku cocok pakai warna hitam atau putih?"

Nuna melihat kedua kaos itu secara bergantian. Nuna terdiam, tampak berfikir.

" putih" jawab Nuna singkat.

" Nuna gak tanya mau kemana?"

Nuna menyipitkan matanya. kemudian tersenyum.

" Mau kemana Taeminie?" tanya Nuna setengah tertawa.

" Kencan" jawabku semangat.

aku menyimpan kembali kaos warna hitam di dalam tasku. Nuna hanya berkata " Oh " setelah mendengar jawabanku.aku melepas kemeja yang aku pakai.

" Ya!!! Taeminie, kenapa kau ganti disini"

" aku hanya ganti atasan saja, gak ganti celana. Nuna gak perlu panik gitu" kataku sambil mengenakan kaos putih pilihan Nuna. Nuna memperhatikan kaosku sekali lagi.

" I love Her?" guman Nuna setelahnya. aku melihat tilisan di kaosku. Nuna melihatku dengan pandangan bertanya-tanya. " jangan-jangan itu kaos pasangan?"

" iya..."

aku mengambil pasangan kaos yang aku kenakan. warnanya sama putihnya, bedanya di kaos ini tulisannya " I LOVE HIM " aku menyerahkannya pada Nuna. Nuna melihat kaos itu.

" Nuna tidak ganti baju?"

" HAAAHHH?"

" Nuna ini bagaimana sih, bukannya tadi aku sudah bilang mau kencan?"

" lalu apa hubungannya denganku?"

" kan Nuna yang akan kencan denganku"

" Kau ini!!! jangan seenaknya saja, lagipula apa-apaan kaos ini?"
________________________________________________

aku berhasil mengajak Nuna pergi kencan akhirnya. tapi, Nuna tidak mau menggunakan kaos yang aku berikan padanya. Norak katanya. jadi, cuma aku yang mengenakan. dasar Nuna ini gak kompak.

" Nuna, Film yang ini saja!!!" aku menunjuk poster film romantis.

kata temenku yang sudah menonton, banyak adegan kissnya. Nuna melihat yang aku tunjuk, lalu melirik poster film di sebelahnya. aku jadi ikutan melirik yang di sebelahnya.

" aku tidak mau nonton film horor Nuna" kataku sebelum Nuna memintanya.

" Lho? Kenapa?"

" kencan ya film romantis donk Nuna!!!"

" aku pulang aja deh!!!" kata Nuna di buat-buat.

Nuna menggodaku dengan maksud mengancam nih. aku manyun melihat Nuna. aku berfikir sejenak.

" baiklah Nuna, aku kalah" jawabku lemas.

Nuna mencium sekilas bibirku lalu berjalan menuju loket. Aku langsung jongkok, badanku terasa lemas setelah di cium Nuna. aku menyembunyikan wajah merahku diantara kedua tanganku. wajahku terasa panas. apa-apaan itu tadi? Nuna menciumku? benarkan? bukan mimpi? aku senang sekali. perasaan bahagiaku terasa meluap-luap sekarang. aku mengangkat kepalaku. melihat Nuna yang antri di depan loket. Nuna menoleh kearahku, kemudian tersenyum. aku jadi ikut tersenyum.

" Taemin..sedang apa kau jongkok lama-lama disitu?" Nuna berkata lembut padaku.

aku berdiri kemudian berjalan menuju Nuna. tunggu, tadi Nuna memanggilku ' Taemin? ' bukan ' Taeminie '

" kenapa Nuna mengubah cara memanggilku?" tanyaku.

" memang aku tadi manggil gimana?"

Nuna sepertinya juga tidak sadar kalau cara panggilnya berbeda.

" Nuna memanggil ' taemin ' bukan ' taeminie ' seperti biasanya"

" kau ingin aku memanggilmu apa?"

" Yeobo?" usulku semangat pada Nuna. Nuna langsung melihat kearah lain. " Nuna aku cuma bercanda, jangan marah ya?"

Nuna melihatku, kemudian mengusap-usap kepalaku.

" memangnya aku tukang marah?"

aku melihat kearah Nuna. memperhatikan tinggi Nuna. aku tersenyum.
Hehe... aku bangga karna aku lebih tinggi dari Nuna. walaupun tinggiku tak jauh beda dengan Nuna.

" aku lebih hebat dari Nuna" gumanku tiba-tiba.

"apanya?" tanya Nuna gak ngerti.

dibalik sikap Nuna yang kuat, ternyata Nuna seorang gadis yang bertubuh kecil. aku mendekap Nuna di dalam pelukanku. badan Nuna kecil banget. jadi gemes. Nuna menjitak kepalaku.

" Taeminie, Baboo!!!"

"DiaMyRy Taeminie Part 4 "


Cast :
  • Taemin
  • Nuna
= = = = =
 

Aku membuka mataku. Melihat sekeliling ruangan. Aku kenal dengan suasana ruangan ini. Hm...jadi aku sudah ada di kamarku sendiri. Aku memegang kepalaku yang pusing, mencoba mengingat kejadian terakhir. seingatku, aku masih didepan toilet dengan Nuna. setelah itu...mungkin, Minho hyung yang membopongku. waktu itu aku pingsan ya? aishhh~
aku menghela nafas berat. aku benar-benar tidak keren, apalagi di depan Nuna yang aku suka.
aku memiringkan badanku, mengubah posisi tidurku.
Lho? NUNAAA!!!!!
apa ini? mimpikah? Nuna ada, disini, duduk dikursi disamping ranjangku. bahagianya aku. aku memperhatikan Nuna. Nuna sedang tidur rupanya. aku tersenyum lembut memandang sosok Nuna. aku membelai rambut pendek Nuna, rambut Nuna halus dan wangi.

" erm..." guman Nuna.

aku refleks mengangkat tanganku. Nuna mengangkat kepalanya. mungkin Nuna terbangun karena aku menyentuhnya. Nuna melihatku, mata Nuna masih setengah terpejam.

" Taeminie~" panggil Nuna padaku.

Nuna tersenyum. aku balas senyum padanya. Nuna melakukan beberapa gerakan untuk melenturkan ototnya. pasti badan Nuna sakit semua tidur sambil duduk seperti tadi. Nuna menatapku lagi, tangan Nuna menyentuh leher dan dahiku. Mungkin Nuna ingin memeriksa suhu tubuhku.

" Nuna, semalaman menginap disini?" Tanyaku penasaran, melihat Nuna ada di dorm SHINee.

" Annio..." jawab Nuna singkat.

" Lalu?"

" Kemarin aku pulang setelah mengantarmu, baru tadi pagi kemari lagi"

Aku melihat jam dinding, sudah jam setengah 12 siang rupanya. Pantas saja perutku lapar. Aku memperhatikan Nuna. Nuna sibuk membasahi handuk dengan air es. perutku lapar Nuna. tapi, aku tidak bisa bicara karena melihat Nuna sibuk begitu. ya sudahlah ngomong saja! perut lebih penting, daripada aku mati.

" Nuna~"

" Hmm..."

Nuna menjawab begitu saja, tanpa menoleh kearahku. Nuna masih sibuk memeras handuk itu.

" Nuna~"

Nuna tidak menjawab. Nuna kemudian meletakkan handuk basah itu diatas dahiku.

" Dingin Nuna..." kataku manja.

" Terima saja, salah sendiri kau sakit"

Nuna kemudian berdiri. lalu berjalan keluar kamar.

" Nuna mau kemana?"

Nuna menoleh lalu tersenyum

" bukankah kau lapar?"
 

Bagaimana Nuna bisa tau kalau aku lapar? aku terharu, Nuna pengertian sekali. Nuna Saranghae.
Nuna kembali berjalan.
aku menegakkan badanku, meletakkan beberapa bantal dibelakang punggungku untuk bersandar. Aku membuat tubuhku duduk senyaman mungkin. Tak lama Nuna kembali membawa semangkuk bubur, segelas susu, sebotol air, juga beberapa bungkus sesuatu. Aku tidak tahu apa isinya. Tidak kelihatan apa dalamnya. Nuna duduk di tepi ranjangku, memberi sebotol air padaku.

" Minum dulu, tenggorokanmu pasti kering"

Aku menerima botol dari tangan Nuna.

" Aku mau susu saja deh, Nuna"

" Susunya buat minum obat"

" Bungkusan itu obat?"

" Hmm..."

Nuna mengambil buburnya, lalu mulai menyuapiku. aku membuka mulutku dan memakan bubur suapannya.

" Nuna panas, lidahku terbakar nih!"

" Maafkan aku...biar aku tiup dulu buburnya setelah ini"

" tidak semudah itu ku maafkan"

" Apa?? sombong sekali omonganmu"

Nuna menjitak kepalaku. Ugh~ aku kan cuma bercanda. Nuna menyuapiku lagi.

" Tidak boleh memukul orang sakit Nuna"

"Salahmu sendiri"

Nuna menyuapiku lagi. aku langsung memakannya.

" kau ini sakit tidak sih? kok nafsu makanmu besar begini?"

" Yang sakitkan badanku, bukan perutku"

Aku masih mengunyah bubur yang belum habis, Nuna sudah menyuapiku lagi. Nuna masih terus memperhatikanku.

" Nuna sudah punya pacar?"

" Kenapa memangnya?"

" Kalau belum, aku mau jadi pacar Nuna"

Nuna hanya tertawa mendengar jawabanku, Nuna kemudian mengusap - usap rambutku.

" Nuna, kenapa Nuna tertawa? aku serius ini"

Nuna menyuapiku lagi. Tapi, aku tak langsung melahap suapannya.

" Kenapa?" tanya Nuna padaku yang berhenti makan.

" Jawab dulu, baru aku makan"

Nuna menghela nafas panjang.

" Belum" jawab Nuna singkat.

" Kalau begitu Nuna sekarang pacarku" kataku bersemangat.

" Jangan seenaknya memutuskan!" kata Nuna sambil menjitak kepalaku lagi.

" Nuna, aku kan sedang sakit. Jangan dipukul"

Nuna menyodorkan sesendok bubur didepan mulutku.

" Tapi ya.. kalau bisa membuatku jatuh cinta padamu maka aku pertimbangkan"

" SUNGGUH?!" Tanyaku memastikan. Nuna mengangguk. aku langsung melahap suapan bubur terakhir didepanku. " Nuna pasti akan terpesona padaku"

" Coba saja!"


Nuna berdiri, meletakkan mangkok kosong dimeja. Menyerahkan sebotol air padaku. Nuna mengambil bungkusan itu. Aku terus memperhatikan, aku penasaran bagaimana isinya. Nuna membuka bungkusan itu.

" Nuna obat apa itu? besar sekali, aku tidak mau meminumnya"

Teriakku kaget melihat ukuran obat 2x lebih besar dari obat biasanya.

" Minum, kau tidak mau sembuh apa?"

" Kalau gitu, obatnya dihancurkan saja! aku tidak bisa menelan sebesar itu"

Aku ini dari kecil memang susah sekali minum obat, entah kenapa obat itu tidak mau masuk ke tenggorokanku.

" Memangnya kau anak kecil?" Protes Nuna, tapi akhirnya Nuna menghancurkan obat itu disendok, lalu menyodorkan obat itu padaku. Aku menerimanya agak ogahan. Ugh~ bau obat aku tidak suka.

" Cepat minum" perintah Nuna.

Aku langsung meminumnya dengan cepat.

" Ugh~ pahit banget Nuna. Air..."

Nuna memberiku susu yang tadi disiapkannya. aku segera meminumnya untuk menghilangkan pahit obat dilidahku. aku melihat Nuna membuka satu bungkus lagi.

" Nuna mau apa? aku tidak mau meminumnya lagi. Cukup satu saja"

" Dokter sendiri yang menyuruh minum 2 butir, ayolah. Jangan merengek begitu!"

" Gak Mau" Teriakku. Nuna menghela nafas panjang. Nuna berfikir sepertinya. Jangan - jangan Nuna mau mengerjaiku lagi.

" Taeminie, kau tetap tidak mau minum obatnya?"

Aku mengangguk dengan pasti, aku tidak mau meminumnya lagi.

" Kalau seperti ini kau tetap tidak mau meminumnya?" kata Nuna kemudian meletakkan obat di dalam mulutnya.

Nuna curang, bagaimana mungkin? aku tidak mau kalau seperti itu. Aku mencium bibir Nuna, lidahku masuk ke dalam mulut Nuna dan mengambil obat itu. Kutelan secepat mungkin obat yang sudah kudapatkan. Walau obat sudah berpindah ke perutku, tapi mulut kami masih menempel. Aku mencium selembut mungkin bibir Nuna, tanganku membelai rambut Nuna. Lidahku menjelajahi bagian dalam mulut Nuna. Lidah Nuna menerima lidahku, aku memainkan lidah Nuna. Mata Nuna terpejam, Nuna seperti menikmatinya. Aku melepaskan bibirku setelah beberapa lama.

" Nuna, Pahit..." kataku lembut. Nuna tersenyum sambil menghilangkan air liur disekitar mulutnya dengan tissue.

" Ludahmu banyak sekali sich?"

" Hehe"

Nuna mengambil susu yang berada dimeja, lalu diminumnya sendiri.

" Lho? Nuna, pahit nih"

Nuna menoleh ke arahku, memberikan sisa susu yang habis diminumnya.

"Mulutku juga pahit, kena obat"

Aku menghabiskan sisa susu itu. Aku memberikan gelas kosong pada Nuna, Nuna meletakkan kembali di meja.

" Taeminie, lepas bajumu"

" Nuna mau apa?" teriakku memeluk tubuhku.

" Babo!! ganti bajumu, itu baju kemarinkan?"

" Oh! itu maksudnya"

" Memangnya kau kira apa?" Tanya Nuna sambil meberikan baju ganti. Aku memutar bola mataku ke kanan dan ke kiri, sambil bersenandung. Nuna menjitak kepalaku. "apa?"

" Kukira Nuna mau melanjutkan yang tadi"

" Kau sering nonton film dewasa ya?" tanya Nuna sambil membantu melepas baju yang aku pakai semalam. Aku menggenggam tangan Nuna. Wajahku kubuat serius.

" Aku tidak seperti yang dipikirkan Nuna"

Nuna tersenyum, Nuna melepas genggamanku,kemudian memasang kancing di baju gantiku.

" tapi, pernahkan?"

" Nuna, sekarang aku mau ganti celana. Nuna tetap disini atau keluar dulu?" kataku mengalihkan pembicaraan. Nuna tersenyum kemudian mengusap - usap rambutku. Nuna lalu berjalan keluar sambil membawa mangkok dan gelas kosong. Selesai akhirnya aku mengganti bajuku. Aku tidur saja lagi daripada ditanyain yang tidak - tidak sama Nuna. Aku pejamkan mata, tak lama kemudian aku pun tertidur kembali.