Minggu, 02 Oktober 2011

"DiaMyRy Taeminie Part 4 "


Cast :
  • Taemin
  • Nuna
= = = = =
 

Aku membuka mataku. Melihat sekeliling ruangan. Aku kenal dengan suasana ruangan ini. Hm...jadi aku sudah ada di kamarku sendiri. Aku memegang kepalaku yang pusing, mencoba mengingat kejadian terakhir. seingatku, aku masih didepan toilet dengan Nuna. setelah itu...mungkin, Minho hyung yang membopongku. waktu itu aku pingsan ya? aishhh~
aku menghela nafas berat. aku benar-benar tidak keren, apalagi di depan Nuna yang aku suka.
aku memiringkan badanku, mengubah posisi tidurku.
Lho? NUNAAA!!!!!
apa ini? mimpikah? Nuna ada, disini, duduk dikursi disamping ranjangku. bahagianya aku. aku memperhatikan Nuna. Nuna sedang tidur rupanya. aku tersenyum lembut memandang sosok Nuna. aku membelai rambut pendek Nuna, rambut Nuna halus dan wangi.

" erm..." guman Nuna.

aku refleks mengangkat tanganku. Nuna mengangkat kepalanya. mungkin Nuna terbangun karena aku menyentuhnya. Nuna melihatku, mata Nuna masih setengah terpejam.

" Taeminie~" panggil Nuna padaku.

Nuna tersenyum. aku balas senyum padanya. Nuna melakukan beberapa gerakan untuk melenturkan ototnya. pasti badan Nuna sakit semua tidur sambil duduk seperti tadi. Nuna menatapku lagi, tangan Nuna menyentuh leher dan dahiku. Mungkin Nuna ingin memeriksa suhu tubuhku.

" Nuna, semalaman menginap disini?" Tanyaku penasaran, melihat Nuna ada di dorm SHINee.

" Annio..." jawab Nuna singkat.

" Lalu?"

" Kemarin aku pulang setelah mengantarmu, baru tadi pagi kemari lagi"

Aku melihat jam dinding, sudah jam setengah 12 siang rupanya. Pantas saja perutku lapar. Aku memperhatikan Nuna. Nuna sibuk membasahi handuk dengan air es. perutku lapar Nuna. tapi, aku tidak bisa bicara karena melihat Nuna sibuk begitu. ya sudahlah ngomong saja! perut lebih penting, daripada aku mati.

" Nuna~"

" Hmm..."

Nuna menjawab begitu saja, tanpa menoleh kearahku. Nuna masih sibuk memeras handuk itu.

" Nuna~"

Nuna tidak menjawab. Nuna kemudian meletakkan handuk basah itu diatas dahiku.

" Dingin Nuna..." kataku manja.

" Terima saja, salah sendiri kau sakit"

Nuna kemudian berdiri. lalu berjalan keluar kamar.

" Nuna mau kemana?"

Nuna menoleh lalu tersenyum

" bukankah kau lapar?"
 

Bagaimana Nuna bisa tau kalau aku lapar? aku terharu, Nuna pengertian sekali. Nuna Saranghae.
Nuna kembali berjalan.
aku menegakkan badanku, meletakkan beberapa bantal dibelakang punggungku untuk bersandar. Aku membuat tubuhku duduk senyaman mungkin. Tak lama Nuna kembali membawa semangkuk bubur, segelas susu, sebotol air, juga beberapa bungkus sesuatu. Aku tidak tahu apa isinya. Tidak kelihatan apa dalamnya. Nuna duduk di tepi ranjangku, memberi sebotol air padaku.

" Minum dulu, tenggorokanmu pasti kering"

Aku menerima botol dari tangan Nuna.

" Aku mau susu saja deh, Nuna"

" Susunya buat minum obat"

" Bungkusan itu obat?"

" Hmm..."

Nuna mengambil buburnya, lalu mulai menyuapiku. aku membuka mulutku dan memakan bubur suapannya.

" Nuna panas, lidahku terbakar nih!"

" Maafkan aku...biar aku tiup dulu buburnya setelah ini"

" tidak semudah itu ku maafkan"

" Apa?? sombong sekali omonganmu"

Nuna menjitak kepalaku. Ugh~ aku kan cuma bercanda. Nuna menyuapiku lagi.

" Tidak boleh memukul orang sakit Nuna"

"Salahmu sendiri"

Nuna menyuapiku lagi. aku langsung memakannya.

" kau ini sakit tidak sih? kok nafsu makanmu besar begini?"

" Yang sakitkan badanku, bukan perutku"

Aku masih mengunyah bubur yang belum habis, Nuna sudah menyuapiku lagi. Nuna masih terus memperhatikanku.

" Nuna sudah punya pacar?"

" Kenapa memangnya?"

" Kalau belum, aku mau jadi pacar Nuna"

Nuna hanya tertawa mendengar jawabanku, Nuna kemudian mengusap - usap rambutku.

" Nuna, kenapa Nuna tertawa? aku serius ini"

Nuna menyuapiku lagi. Tapi, aku tak langsung melahap suapannya.

" Kenapa?" tanya Nuna padaku yang berhenti makan.

" Jawab dulu, baru aku makan"

Nuna menghela nafas panjang.

" Belum" jawab Nuna singkat.

" Kalau begitu Nuna sekarang pacarku" kataku bersemangat.

" Jangan seenaknya memutuskan!" kata Nuna sambil menjitak kepalaku lagi.

" Nuna, aku kan sedang sakit. Jangan dipukul"

Nuna menyodorkan sesendok bubur didepan mulutku.

" Tapi ya.. kalau bisa membuatku jatuh cinta padamu maka aku pertimbangkan"

" SUNGGUH?!" Tanyaku memastikan. Nuna mengangguk. aku langsung melahap suapan bubur terakhir didepanku. " Nuna pasti akan terpesona padaku"

" Coba saja!"


Nuna berdiri, meletakkan mangkok kosong dimeja. Menyerahkan sebotol air padaku. Nuna mengambil bungkusan itu. Aku terus memperhatikan, aku penasaran bagaimana isinya. Nuna membuka bungkusan itu.

" Nuna obat apa itu? besar sekali, aku tidak mau meminumnya"

Teriakku kaget melihat ukuran obat 2x lebih besar dari obat biasanya.

" Minum, kau tidak mau sembuh apa?"

" Kalau gitu, obatnya dihancurkan saja! aku tidak bisa menelan sebesar itu"

Aku ini dari kecil memang susah sekali minum obat, entah kenapa obat itu tidak mau masuk ke tenggorokanku.

" Memangnya kau anak kecil?" Protes Nuna, tapi akhirnya Nuna menghancurkan obat itu disendok, lalu menyodorkan obat itu padaku. Aku menerimanya agak ogahan. Ugh~ bau obat aku tidak suka.

" Cepat minum" perintah Nuna.

Aku langsung meminumnya dengan cepat.

" Ugh~ pahit banget Nuna. Air..."

Nuna memberiku susu yang tadi disiapkannya. aku segera meminumnya untuk menghilangkan pahit obat dilidahku. aku melihat Nuna membuka satu bungkus lagi.

" Nuna mau apa? aku tidak mau meminumnya lagi. Cukup satu saja"

" Dokter sendiri yang menyuruh minum 2 butir, ayolah. Jangan merengek begitu!"

" Gak Mau" Teriakku. Nuna menghela nafas panjang. Nuna berfikir sepertinya. Jangan - jangan Nuna mau mengerjaiku lagi.

" Taeminie, kau tetap tidak mau minum obatnya?"

Aku mengangguk dengan pasti, aku tidak mau meminumnya lagi.

" Kalau seperti ini kau tetap tidak mau meminumnya?" kata Nuna kemudian meletakkan obat di dalam mulutnya.

Nuna curang, bagaimana mungkin? aku tidak mau kalau seperti itu. Aku mencium bibir Nuna, lidahku masuk ke dalam mulut Nuna dan mengambil obat itu. Kutelan secepat mungkin obat yang sudah kudapatkan. Walau obat sudah berpindah ke perutku, tapi mulut kami masih menempel. Aku mencium selembut mungkin bibir Nuna, tanganku membelai rambut Nuna. Lidahku menjelajahi bagian dalam mulut Nuna. Lidah Nuna menerima lidahku, aku memainkan lidah Nuna. Mata Nuna terpejam, Nuna seperti menikmatinya. Aku melepaskan bibirku setelah beberapa lama.

" Nuna, Pahit..." kataku lembut. Nuna tersenyum sambil menghilangkan air liur disekitar mulutnya dengan tissue.

" Ludahmu banyak sekali sich?"

" Hehe"

Nuna mengambil susu yang berada dimeja, lalu diminumnya sendiri.

" Lho? Nuna, pahit nih"

Nuna menoleh ke arahku, memberikan sisa susu yang habis diminumnya.

"Mulutku juga pahit, kena obat"

Aku menghabiskan sisa susu itu. Aku memberikan gelas kosong pada Nuna, Nuna meletakkan kembali di meja.

" Taeminie, lepas bajumu"

" Nuna mau apa?" teriakku memeluk tubuhku.

" Babo!! ganti bajumu, itu baju kemarinkan?"

" Oh! itu maksudnya"

" Memangnya kau kira apa?" Tanya Nuna sambil meberikan baju ganti. Aku memutar bola mataku ke kanan dan ke kiri, sambil bersenandung. Nuna menjitak kepalaku. "apa?"

" Kukira Nuna mau melanjutkan yang tadi"

" Kau sering nonton film dewasa ya?" tanya Nuna sambil membantu melepas baju yang aku pakai semalam. Aku menggenggam tangan Nuna. Wajahku kubuat serius.

" Aku tidak seperti yang dipikirkan Nuna"

Nuna tersenyum, Nuna melepas genggamanku,kemudian memasang kancing di baju gantiku.

" tapi, pernahkan?"

" Nuna, sekarang aku mau ganti celana. Nuna tetap disini atau keluar dulu?" kataku mengalihkan pembicaraan. Nuna tersenyum kemudian mengusap - usap rambutku. Nuna lalu berjalan keluar sambil membawa mangkok dan gelas kosong. Selesai akhirnya aku mengganti bajuku. Aku tidur saja lagi daripada ditanyain yang tidak - tidak sama Nuna. Aku pejamkan mata, tak lama kemudian aku pun tertidur kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar