- Taemin
- Nuna
Akhir-akhir ini aku jadi sering ketempat Nuna. Setiap ada kesempatan aku pasti meluncur kesana. Tentu saja aku kesana setelah Nuna selesai kerja. Habis kalau gak ketemu Nuna sehari saja, badanku terasa sakit sekali terutama hatiku. Aku jadi kecanduan bertemu dengan Nuna. Nuna memintaku duduk di depan televisi, Nuna sedang sibuk memasak sekarang. Dapur dan tempatku sekarang bersebelahan,jadi aku bisa memperhatikan Nuna.
" Nuna~" Panggilku.
" Hm.." Nuna hanya berguman menjawab panggilanku.
Nuna sibuk dengan masakannya, menoleh padaku sebentar saja tidak.
" Nunaaa~"
" apa?"
Nuna tetap tidak menoleh. aku jadi kesal tidak diperhatikannya.
" Nuna, Nuna, Nunaaaa~ "
" APA sih Taeminie? APA? APA?" kata Nuna kesal, karna kegiatannya diganggu.
Yey!!! akhirnya Nuna melihat kearahku juga, walaupun sambil marah-marah sih! Tapi, Nuna tetap cantik walau marah-marah gitu.
" kenapa wajahmu malah terlihat senang begitu?"
aku tersenyum.
" Hehe..." jawabku.
" kau memang mau menggangguku ya Taeminie? dari pada kamu gak ada kerjaan, bantuin aku aja sini"
" SIAP!!!"
aku segera berdiri, berjalan menuju Nuna. kemudian berdiri disamping Nuna.
" Yeobo, mau dibantuin apa?" Tanyaku menggoda Nuna, Nuna menoleh kemudian mencubit pipiku.
" Siapa yang kau maksud Yeobo? kau siapkan saja peralatan makannya dimeja, Tata yang rapi ya?"
aku segera melaksanakan perintah Nuna, sambil sesekali aku melihat kearah Nuna.
" Nuna, kita jadi seperti pengantin baru"
Nuna menoleh padaku, kemudian melanjutkan memasaknya. Nuna dingin sekali. padahal aku sudah berkata begitu, tapi Nuna tidak berkomentar sama sekali.
Tak lama semua telah selesai.
" Fiuh~ akhirnya selesai juga!!" kataku lega. Nuna tersenyum sambil melepas celemeknya. aku segera menarikkan kursi untuknya. " Silahkan Ratuku"
Nuna tersenyum.
" terima kasih"
" Nuna ada lilin?" tanyaku tiba-tiba. Nuna tampak kaget.
" ada, di lemari dapur"
aku segera membuka lemari dan mengambil semua lilin yang ada. menata dengan rapi lilin-lilin di atas meja makan. kemudian ku nyalakan semua lilinnya.
" biar terasa seperti Dinner romantis" kataku kemudian duduk di depan Nuna.
Nuna hanya tersenyum. aku menatap mata Nuna dalam-dalam. Nuna, memalingkan wajahnya ke arah lain.
" Taeminie, hentikan memandangku seperti itu. aku sudah lapar, ayo kita makan" kata Nuna, masih tetap memandang kearah lain.
" Aku mau bacakan puisi untuk Nuna"
Nuna menoleh, mata Nuna melebar kaget. sebentar kemudian lalu tetawa kecil.
" Silahkan" kata Nuna setengah tertawa.
" Gak jadi ah! belum apa-apa sudah diketawain"
" Ya, ya, maaf... ayolah, silahkan"
Aku memandang wajah Nuna, Nuna tersenyum. Tanganku menggenggam tangan Nuna. Nuna tampak kaget, tapi dia tak melepas genggaman tanganku.
" Cantik... semua terpancar dari wajahmu laksana cahaya bulan purnama. Indah... semua yang ada dalam dirimu laksana bait syair cinta para pujangga. Engkau yang cantik nan indah berpijar dihati ini. Engkau yang selalu ku puja bak bidadari dari surga. Engkau yang cantik nan indah mempesona merasuk ke jiwaku membuatku tak beralih pandang walau hanya sesaat. Kapankah kecantikan dan keindahan yang ada dalam dirimu, menjadi miliku?"
Nuna tepuk tangan sambil tersenyum. lalu mengangkat kedua jempol tangannya.
" Nuna, jawab pertannyaannya..." kataku serius.
" Taeminie, aku sudah lapar~~" kata Nuna memelas.
Nuna sengaja mengalihkan pembicaraan. aku menghela nafas panjang. bagaimanapun juga, aku sayang Nuna. Aku tidak mungkin membiarkan perut Nuna lapar.
" Ya sudah, ayo kita makan" kataku lemas. Nuna tersenyum.
kami mulai makan. masakan Nuna enak sekali. Makin cinta aku sama Nuna. kami makan malam sambil mengobrol tentang banyak hal. Nuna banyak tertawa hari ini, aku senang melihatnya. Nuna terima kasih untuk hari ini. aku bahagia bisa menyukai Nuna.
OH ya!! ngomong-ngomong aku seperti melupakan sesuatu. tapi, apa ya?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar